SIKAP KITA TERHADAP BUMI

Berikut ini saya lampirkan tulisan yang bagus buat para petani yang merindukan hidup bersama dan selaras dengan kebaikan alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Tugas kita hanyalah menjaga agar bumi ini bisa kita manfaatkan buat kita dan anak cucu kita.

Sedulur Sikep Marawat Bumi
Oleh Maria Hartiningsih, Kompas 4 Mei 2012

Kalau pada waktunya hasil panen tak lagi mencukupi, tanyalah sebabnya pada diri sendiri, apakah kita sudah menghormati Bumi.

Gunretno, tokoh Sedulur Sikep di Kecamatan Sukolilo, Pati Jawa Tengah, melanjutkan.

Yen ora panen, ya kuwi merga tingkah lakune dhewe. Lemahe kudu diajeni, kudu dimulyaake, kaya ibu sing nglairake. Lemah kuwi Ibu Pertiwi, sing ngailare urip sing ndadekna kecukupan kawit jamane nenek moyang nganti dina iki.”

( Kalau tidak panen, itu karena tingkah laku (kita) sendiri. Bumi harus dihormati, harus dimuliakan, seperti ibu yang melahirkan (kita). Bumi adalah Ibu Pertiwi yang melahirkan hidup dan menjadikan (hidup) berkecukupan, dari jaman nenek moyang hingga hari ini.”)

Tanah air, dalam persepsi komunitas Samin, berarti “tanah dan air”. Mencintai tanah air berarti mencintai kehidupan. Alam selalu memberi dan merawat kehidupan, kalau manusia juga melakukan hal yang sama terhadap alam.
“Ritual sedekah bumi setahun sekali itu untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kepada Sang Pencipta atas berkah Bumi,” ujar Gunretno.

Proses “dandan-dandan” atau Memperbaiki Sikap
Kami tiba di rumahnya pada suatu pagi. Rumah tradisional itu menggunakan penyangga kayu, berdinding bata yang direkat dengan kapur tanpa semen. Jendela berkisi-kisi membuat udara segar bebas masuk ke ruang tamu. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan padi menguning.

Bagi Sedulur Sikep, ngajeni, ngopeni, dan melestarikan keseimbangan alam dengan demunung -artinya memahami sifat alam yang hanya boleh dimanfaatkan secukupnya (tidak serakah)- adalah kunci selamat dalam menjalani hidup.
“Kalau tidak, jangan kaget kalau alam yang akan menata keseimbangannya sendiri,” Gunretno mengingatkan.

Formulasi sederhana itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Banjir bandang tahun 2001 di Kayen -sejauh 7 kilometer darti Sukolilo- sangat bisa jadi disebabkan oleh terganggunya ekosistem karst oleh penggalian di atas.

Menata keseimbangan berarti genepe alam (genapnya pranata alam), melalui banjir, tanah longsor, kekeringan, hama penyakit dan lain-lain. “Manusia adalah bagian dari alam. Makanya harus dandan-dandan (memperbaiki sikap) supaya jangan ada korban dan dampak lebih besar dari proses alam menyeimbangkan diri.”

Gunretno bersama komunitas Sedulur Sikep dan warga masyarakat sekarang melakukan proses dandan-dandan. Salah satunya, “Kami melakukan cara bertani organik, tanpa pupuk dan pestisida kimia.”

Mereka membuat pupuk cair yang bahan-bahannya beradal dari alam sekitar, yakni air kelapa, air bekas cucia beras (leri), daun kelor, dan batang pisang, yang difermentasikan dengan tetes tebu selama lebih kurang satu bulan.
Dengan pupuk alami, tidak dibutuhkan pestisida apapun. Karakter pestisida membunuh, padahal ekosistem sudah menjaga alam,” kata Gunretno. “Hasil panen per hektar 8,8 ton dua kali setahun, tiga kali dengan palawija. Kami melakukan pemuliaan benih.

Sebenarnya, begitulah cara bertani Sedulur Sikep sebelum program pemerintah di bidang pertanian -mengikuti konsep Revolusi Hijau- “memaksakan” cara bertani dengan pupuk dan pestisida kimia. Benih disediakan. Sistem pengairannya berbeda dengan sistem tradisional tadah hujan. Tujuannya saat itu “menggenjot” produksi.
Yang terjadi, tanahnya “sakit” dan tanaman rentan hama. “Menyembuhkan tanah tak bisa sekejap karena penggunaan pupuk dan pestisida kimia sudah cukup lama,” katanya.

Melawan eksploitasi

Dengan pedoman hidup selaras dengan alam, bisa dipahami kalau rencana perluasan pabrik semen PT Semen Gresik ditolak keras. Meski menghadapi kekerasan sistemik, tuntutan warga menolak eksploitasi galian C dikabulkan Mahkamah Agung tahun 2010.Namun tahun itu juga, Kayen dan Tambakromo diincar PT SMS, anak perusahaan PT Indocement Tunggal Perkasa.

Sukolilo, Kayen dan Tambakromo adalah tiga kecamatan di Kabupaten Pati yang berada di punggung Pegunungan Kendeng Utara. Bersama lima kecamatan di Kabupaten Grobongan dan satu kecamatan di Kabupaten Blora, kawasan itu dikenal sebagai kawasan karst Sukolilo. Kawasan tersebut diincar karena “Kandungan CaO-nya (kalsium oksida), bahan baku semen, lebih dari 50%, “ujar ahli geografi UGM, Eko Haryono.

Menurut mBah Kasmari (56), alam memberi keberlimpahan hidup disitu. “Kalau dibangun pabrik semen, semua habis,” sambung mbah Kusno (58). Rumah Kusno berjarak hanya 20 meter dari tapak pabrik. Hampir semua rumah di dua kecamatan itu memasang pernyataan tolak pabrik semen, mengibarkan bendera, dan menancapkan bambu runcing.

Berdasarkan penelusuran Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, ada 321 mata air besar dan kecil serta 117 mulut goa memagari kawasan karst Sukolilo. Ditemukan juga 109 mata air di Kayen dan Tambakromo serta 28 goa dan lima ponor (cekungan tempat air permukaan masuk). “Pendataan di lapangan belum selesai,” ujar Sunu Wijanarko dari ASC.

Perjuangan komunitas Sedulur Sikep bersama masyarakat sebenarnya tak hanya menyangkut keberlangsungan hidup petani di Kabupaten Pati. Sebab, jebolnya kawasan karst Sukolilo akan menjadi padanan nasib seluruh kawasan karst di Indonesia. (SON/FIT)

About NURMAN IHSAN

Bila cinta kepada seseorang saja, di hati penuh kerinduan. Apalagi bila kita dapatkan cinta ALLOH SWT. Ini prestasi seorang hamba. Prestasi hidup. Dan prestasi terbesar. Oleh sebab itu, rebutlah cinta itu,,,
This entry was posted in ABOUT TANAMAN PADI. Bookmark the permalink.

6 Responses to SIKAP KITA TERHADAP BUMI

  1. suli says:

    Semoga komunitas komunitas yang menjaga bumi ini semakin banyak, ini berhubungan dengan pegunungan kapur. seperti daerah saya pegunungan kapur yang sudah terlanjur di beli arifin panigoro untuk pabrik semen .semoga tidak di lanjutkan, apajadinya petani petani di bawahnya seperti saya, apajadinya sapi sapi rakyat, sapi saya juga yang makan rumput rumput yang berdebu, apajadinya puskesmas bakal luber pasien penyakit pernapasan, apa nanti juga saya berubah menjadi kuli pabrik semen yang bakal berumur pendek, sapi sapi saya kurus kering, anak anak bercengkerama dengan debu, tiap hari kompas bakal bertandang kedaerah saya karena ada berita berita yang menarik harus di buru…..bukan lagi berita hasil panen padi sekian ton /ha, bukan kedelai sekian ton/ha, bukan pula hasil panen ikan gurame khas kec.buayan (pegunungan kapur). tengkulak sapi menghilang, tengkulak padi juga pindah kedaerah lain, truk truk sapi yang penuh sesak setiap selasa dan jumat bakal musnah.pasar hewan gombong di isi hanya sapi sapi kurus yang susah di obati walaupun dengan Amoxycillin-Clavulanic Acid sekalipun.

    Kembali ke alam dengan segala keramahannya,perintahnya adalah Ilahi, nafasnya adalah anak cucu kita kelak, pengejawantahnya adalah legowo dan nerima pandum ( menerima apa apa secara iklas yang di berikan Gusti Allah)

    • NURMANIHSAN says:

      Sy setuju mas, bila komunitas seperti ini banyak brmunculan,,,
      Seharusnya, pemerintah berfikir ulang dan punya wawasan luas : bila pabrik semen dibangun berapa kerugian dan keuntungan, bgmn dampak lingkungannya, bgm dampak kesehatannya, bgmn dampak polusinya, bgm dampak penganguran, dampak pencemaran lingkungan, dampak jalan rusak, dampak debu2 yang mengganggu pernapasan dll

  2. suli says:

    Kompas,Jumat tanggal 15 november…..
    Pabrik semen……..
    Pabrik semen gombong ….di’bangunkan’lagi semenjak 1998 tertidur pulas. Petir di siang bolong…..ini daerah saya !!!……oh begitu kejam negara agraris yang memaksakan jadi negara industri…..di tulis di situ komunitas pemelihara karst gombong selatan, bernama supriyanto….walaupun belum kenal akan saya berusaha mencarinya, saya di sampingmu pak Pri….dimanakah keberadaanmu panjenengan sekarang, januari 2014 saya pulang kandang….kandang yang tidak lebih dari gubuk reyot yang jika malam bisa leluasa melihat bintang di langit.

  3. fahmi says:

    siap dukung pak suli walau dg doa

Leave a comment