MELACAK JEJAK BATIK NUSANTARA

By: Ira Audia A.

 

MELACAK JEJAK BATIK NUSANTARA

 

Siapa orang Indonesia yang tak kenal dengan produk ini: Batik. Sebagai suatu produk budaya kebanggaan Indonesia yang telah diakui oleh dunia sebagai warisan dunia oleh UNESCO di tahun 2009, kepopuleran Batik semakin meningkat dan telah menjadi komoditas massal yang memegang peranan yang cukup signifikan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia semenjak awal abad 20 (Steelyana, 2012). Popularitas Batik yang amat luas ini menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana:

Sebenarnya, darimana kebudayaan Batik ini berasal?

Pengetahuan umum yang didapatkan oleh masyarakat, awal-mula kebudayaan Batik adalah Jawa. Jawa Tengah tepatnya, dimana kain Batik telah menjadi pakaian yang dipakai mulai dari rakyat biasa hingga golongan bangsawan dan kerajaan. Beberapa pola Batik bahkan dilarang untuk direproduksi dan dikenakan diluar urusan kerajaan. Kain batik pada masa lalu menjadi pakaian yang menunjukkan strata sosial masyarakat. Namun, apakah budaya Batik itu sendiri murni berasal dari tanah Jawa?

Dari sekian banyak riset, masih belum ada pakar ataupun penelitian yang berani memberikan data pasti yang menetapkan bahwa Batik memang benar berasal dari kebudayaan Jawa tanpa adanya pengaruh dari luar. Apabila dilihat dari alat yang digunakan, serta teknik yang digunakan dalam pembuatan kain Batik itu sendiri, tampak ada beberapa kemiripan dengan pembuatan kain tradisional di beberapa negara lain.

  1. Batik Jawa

Batik tradisional adalah batik yang dibuat dengan sistem kerajinan tangan, sesuai dengan makna kata itu sendiri “Batik – (amba & titik)”. Pembuatan kreasi tekstil dengan menempelkan lilin denganmenggunakan canting pada kain sesuai pola-pola yang diinginkan, dan untuk selanjutkan kain yang telah diberikan lilin/wax akan dicelupkan ke pewarna kain. Bagian-bagian kain yang tidak diberi lilin akan menyerap warna tersebut, sehingga pola akan muncul pada kain tersebut.

Gambar 1: Motif Batik Kembang Pacar

Gambar 2: Motif Batik Parang

 

  1. Tiongkok

Di daerah pedalaman Daratan Tiongkok, terdapat suku Miáo yang tinggal di daerah pegunungan tinggi yang terisolasi dari pengaruh luar. Suku ini memiliki teknik dalam pembuatan pola pada kain yang mirip dengan teknik pembuatan pola pada Batik tradisional. Sama halnya pada Batik, setiap pola pada kain tradisional suku Miao memiliki makna filosofis sendiri sesuai dengan kebudayaan mereka.

Gambar 3: Pola pada kain tradisional suku Miáo

Pada suku Miao, teknik pembuatan kain tradisional mereka tidaklah diturunkan begitu saja antar generasi, melainkan harus melalui garis keturunan perempuan – suatu teknik yang diajarkan dari ibu kepada anak perempuannya. Dalam prosesnya, metode yang digunakan pun juga menggunakan metode pencelupan pisau lilin pada cairan lilin, dan menggunakan alat penampung lilin tersebut unutk menggambar pola-pola geometris ataupu bentukan-bentukan alam, sepert bunga, tanaman, dan lain-lain. Hal yang membedakan dengan Batik tradisional jawa adalah, kain tradisional Suku Miao ini menggunakan pewarnaan indigo (biru) dengan zat pewarna alami dari alam. Setelah selesai diberi pola dengan wax, kain tersebut kemudian dimasak untuk menghilangkan lilin pada kain.

Gambar 4: Pembuatan pola menggunakan cairan lilin

Source:
1. Steelyana, E. (2012). Batik: A Beautiful Cultural Heritage that Preserve Culture and Support Economic Development in Indonesia. Binus Business Review, 116-130.

 

Baskoro Azis