Beranda > Pertanyaan
Pertanyaan
akuntansi wesel
Akuntansi 20/10/11 Diposkan oleh Belum Ada Nama
Jawaban
1 dari 1
AKUNTANSI WESEL TAGIH/PIUTANG WESEL
     Akuntansi untuk wesel dapat dibagi menjadi akuntansi pada saat timbulnya, saat jatuh tempo atau saat piutang ini dijual.
        1. Akuntansi saat timbulnya piutang wesel
Wesel dapat timbul karena menjual barang secara kredit atau bias juga timbul karena perusahaan memberi pinjaman.
              1. Menjual barang/jasa secara kredit. Misalkan perusahaan menjual jasa secara kredit dan perusahaan menerima promes senilai Rp 1.000.000,00 maka jurnal yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Jan 2





Piutang Wesel

Penjualan





1.000.000








1.000.000

  1.
     Terdapat piutang yang sudah jatuh tempo. Misalkan perusahaan pada tanggal 2 Januari 2006 menjual jasa secara kredit dan jatuh tempo 2 Februari 2006. Pada tanggal 2 Januari 2006 perusahaan menerima promes senilai Rp 1.000.000,00 bunga 12% jatuh tempo 2 Mei 2006 sebagai pelunasan tagihan tersebut, maka jurnal yang yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Jan 2





Piutang Wesel

Piutang





1.000.000








1.000.000

  1.
     Akuntansi pada saat jatuh tempo. Mestinya pada tanggal jatuh tempo perusahaan akan menerima uang sebesar nilai nominal wesel dan bunganya. Tapi kadangkala debitur tidak sanggup membayar.

     1) Pada saat jatuh tempo debitur membayar, maka jurnal yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Mei 2





Kas

Piutang Wesel

Pendapatan Bunga





1.030.000








1.000.000

30.000

2) Pada saat jatuh tempo debitur tidak membayar, jurnal yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Mei 2





Piutang

Piutang Wesel

Pendapatan Bunga





1.030.000








1.000.000

30.000




  1.
     Menjual Wesel Tagih

     Sebelum jatuh temponya, suatu piutang wesel dapat dijual atau didiskontokan. Misalkan sebuah wesel sebagaimana tersaji pada angaka 2 diatas yang jatuh tempo pada tanggal 14 Juni 2006 dijual oleh PT ABC ke Bank Amanah pada tanggal 15 Mei 2001 dengan discount 10% setahun. Untuk menentukan jumlah yang diterima PT ABC, dibuat perhitungan sebagai berikut:

     Nominal piutang                            $2,500.00

     Bunga 16 Maret s.d. 14 Juni 2006=2,500 x 12% x 90/360         75.00

     Nilai pada jatuh tempo                         2,575.00

     Discount: 2,575 x 10% x 30/360                     21.46

     Jumlah yang diterima                         2,553.54

     Perhitungan hari bunga:

     Maret    = 15 hari

     April    = 30 hari

     Mei        = 31 hari

     Juni    = 14 hari

              90 hari


     

     Perhitungan hari discount:

     Mei        = 16 hari

     Juni    = 14 hari

              30 hari


     

     Untuk membuat jurnal pada tanggal penjualan perllu dibandingkan antara nilai nominal wesel dengan hasil penjualan. Jika hasil penjualan lebih besar daripada nilai nominal, maka selisihnya merupakan pendapatan bunga. Sebaliknya jika hasil penjualan lebih kecil daripada nilai nominal maka selisihnya dicatat sebagai beban bunga. Dengan demikian jurnal untuk mencatat transaksi tanggal 15 Mei 2006 adalah sebagai berikut:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Mei 2





Kas

Piutang Wesel

Pendapatan Bunga





2,553.54








2,500.00

53.54




Jika saat jatuh tempo, debitur membayar ke bank, PT ABC tidak menjurnal. Tetapi jika pada saat jatuh tempo, debitur tidak sanggup membayar dan bank menagih pada PT ABC sebesar $2,575, maka jurnal yang dibuat PT ABC adalah:




Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Juni 14





Piutang

Kas





2,575








2,575




  1.
     PIUTANG USAHA BIASA
        1.
           Timbulnya piutang dan akuntansinya

           Piutang dapat timbul karena menjual barang/jasa atau karena perusahaan memberi pinjaman ke perusahaan lain. Umumnya piutang dicatat pada saat timbulnya yaitu setelah perusahaan menyerahkan baran/jasa yang dijual.
              1.
                 Penjualan barang/jasa

                 Jika perusahaan menjual jasa secara kredit, misalkan perusahaan pada tanggal 5 Januari 2006 telah menjual jasa sebesar Rp 5.000.000,00. Karena perusahaan sudah menyerahkan jasa, maka perusahaan dapat mengakui piutang dan pendapatan jasa dengan membuat jurnal sebagai berikut:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Jan 5





Piutang Usaha

Pendapatan Usaha





5.000.000








5.000.000

  1.
     Pemberian Pinjaman

     Piutang juga dapat timbul karena perusahaan memberi pinjaman uang pada perusahaan lain. Misalnya pada tanggal 15 Januari 2006 PT Angkasa Pura II telah memberi pinjaman kepada pegawai sebesar Rp 500.000,00 maka jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2006

Jan 15





Piutang Pegawai

Kas





500.000








500.000




  1.
     Kerugian Piutang

     Piutang memiliki resiko tidak tertagih sehingga timbul kerugian. Terdapat dua metode dalam akuntansi kerugian piutang, yaitu:
        1.
           Metode Langsung

           Jika metode ini yang digunakan, perusahaan tidak membentuk cadangan. Jika ada piutang yang dihapus, Kerugian Piutang didebet, dan rekening Piutang dikredit. Saldo rekening Kerugian Piutang pada akhir tahun disajikan dalam Laporan Laba Rugi.
        2.
           Metode Cadangan/Penyisihan

           Jika metode ini yang digunakan perusahaan pertama-tama membentuk cadangan atau penyisihan kerugian piutang dengan mendebet Beban Kerugian Piutang dan mengkredit Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Pada akhir tahun, saldo rekening Beban Kerugian Piutang disajikan dalam Laporan Laba Rugi, sedangkan saldo rekening Penyisihan disajikan di neraca sebagai pengurang Piutang.

           Jika ada piutang yang dihapus, perusahaan tidak mengakui kerugian, sebab kerugian sudah diakui pada saat membentuk cadangan. Perusahaan mengurangi Cadangan dengan mendebet rekening Cadangan dan mengkredit rekening Piutang.

           Jika banyak penghapusan piutang, saldo Cadangan dapat habis, oleh karena itu setiap akhir tahun Cadangan disesuaikan. Jadi pencatatan kerugian piutang dilakukan pada saat:

   *
     pembentukan Cadangan; dan
   *
     penyesuaian saldo Cadangan.

Berikut ini contoh ikhtisar akuntansi kerugian piutang dengan metode Cadangan:

  1.
     Pada tanggal 31 Desember 2005 dibentuk cadangan kerugian piutang Rp 5.000,00
  2.
     Pada tanggal 19 September 2006 dihapuskan piutang sebesar Rp 3.000,00
  3.
     Pada tanggal 14 Desember 2006 diterima piutang yang telah dihapus Rp 2.500

Transaksi


Jurnal

Membentuk Cadangan


Beban Kerugian Piutang

Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang


5.000





5.000

Menghapus Piutang


Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang

Piutang


3.000





3.000

Menerima Piutang yang telah dihapus


Piutang

Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang


2.500





2.500

Kas

Piutang


2.500





2.500

Menyesuaikan akun Cadangan


Pada akhir tahun dilakukan penyesuian berdasarkan:

  1.
     Penjualan b. Saldo Piutang

c. Menyesuaian saldo rekening Cadangan Kerugian Piutang

   1) Dasar Penjualan

Pertama, tentukan besarnya penjualan kredit selama setahun, jika tidak ada data gunakan total penjualan selama satu periode. Besarnya taksiran kerugaian ditentukan dengan mengalikan % kerugian dengan penjualan tersebut, lalu dijurnal. Misalkan penjualan kredit selama tahun 2005 sebesar Rp 1.000.000.000,00 dan ditaksir kerugian piutang adalah 5% x Rp 1.000.000.000,00 = Rp 50.000.000,00. Jurnal yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2005

Des 31





Beban Kerugian Piutang

Penyisihan Ker. Piutang





50.000.000








50.000.000

       

2) Dasar Piutang

       Terdapat tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu:

  1.
     Menentukan besarnya taksiran kerugian piutang;
  2.
     Membandingkan taksiran kerugian piutang dengan saldo rekening Cadangan/Penyisihan;
  3.
     Membuat jurnal jika hasil perbandingan pada poin b tidak sama.




Langkah pertama:

Untuk menentukan besarnya taksiran kerugian piutang dikemudian hari, dapat didasarkan pada: (1) Total piutang pada akhir tahun, atau (2) Umur masing-masing tagihan.

  1.
     Didasarkan pada Total Piutang

     Caranya dengan mengalikan total piutang dari rekening "Piutang" dengan % yang telah ditetapkan. Misalnya dari PT ABC diperoleh data sebagai berikut dan taksiran kerugaian piutang adalah 15% dari total piutang.

DEBITUR


JUMLAH


TGL FAKTUR


TGL JATUH TEMPO

PT A


2.000


20/12/2005


20/01/2006

PT B


2.500


15/10/2005


15/11/2005

PT ABC


1.000


15/11/2005


15/12/2005

PT X


3.000


3/10/2005


3/11/2005

PT Y


2.500


3/7/2005


3/8/2005

PT Z


1.000


3/8/2005


3/9/2005

JUMLAH


12.000


   Taksiran kerugian piutang = 15% x Rp 12.000,00 = Rp 1.800,00.

  1.
     Didasarkan pada Umur Piutang

     Caranya hampir sama, namun saldo rekening piutang dianalisis terhadap tanggal penerbitan dan tanggal jatuh tempo, kemudian dikelompokkan menurut umurnya. Kemudian saldo masing-masing kelompok piutang dikalikan dengan prosentase yang telah ditetapkan berdasarkan pengalaman. Cara menentukan umur piutang dapat dicari (a) dari tanggal faktur ke 31 Desember atau (b) dari tanggal jatuh tempo ke 31 Desember.
        1.
           Umur piutang dihitung dari tanggal jatuh tempo ke tanggal 31 Desember

           Karena ada kemungkinan terdapat piutang yang belum jatuh tempo maka biasanya pengelompokannya meliputi piutang yang belum jatuh tempo dan yang sudah lewat waktu. Misalkan prosentase kerugian ditaksir sebagai berikut:

Umur Piutang


% Taksiran Kerugian Piutang

Belum jatuh tempo


10%

Lewat waktu s.d. 30 hari


15%

Lewat waktu lebih dari 30 hari


20%




Untuk mempermudah menentukan besarnya taksiran kerugian dibuat daftar umur piutang sebagai berikut:

Nama Debitur


Jumlah


Belum Jatuh Tempo


Lewat s.d 30 Hari


Lewat Waktu > 30 Hari

PT A


2.000


2.000


PT B


2.500


2.500

PT ABC


1.000


1.000


PT X


3.000


3.000

PT Y


2.500


2.500

PT Z


1.000


1.000

Jumlah


12.000


2.000


1.000


9.000

% Penyisihan


10%


15%


20%

Jumlah Penyisihan


2.150


200


150


1.800

   


  1.
     Umur piutang dihitung dari tanggal faktur ke tanggal 31 Desember

     Karena umur piutang dihitung dari tanggal faktur, maka biasanya pengelompokan umur piutang berdasarkan jumlah hari. Misalkan prosentase kerugian ditaksir sebagai berikut:

Umur Piutang


% Taksiran Kerugian Piutang

s.d. 30 hari


10%

31 s.d. 60 hari


15%

lebih dari 60 hari


20%




Untuk mempermudah menentukan besarnya taksiran kerugian dibuat daftar umur piutang sebagai berikut:

Nama Debitur


Jumlah


s.d. 30 hari


31 s.d. 60 hari


Lebih dari 60 hari

PT A


2.000


2.000


PT B


2.500


2.500

PT ABC


1.000


1.000


PT X


3.000


3.000

PT Y


2.500


2.500

PT Z


1.000


1.000

Jumlah


12.000


2.000


1.000


9.000

% Penyisihan


10%


15%


20%

Jumlah Penyisihan


2.150


200


150


1.800




Langkah kedua:

Membandingkan antara jumlah taksiran kerugian piutang yang telah dihitung dengan saldo rekening Cadangan/Penyisihan Kerugian Piutang. Dari perbandingan ini akan ada 4 kemungkinan, yaitu:

  1.
     Rekening Cadangan bersaldo Kredit yang sama dengan taksiran kerugian piutang hasil perhitungan, tidak ada penyesuaian.
  2.
     Rekening Cadangan bersaldo Kredit lebih kecil dari taksiran kerugian piutang hasi perhitungan, perlu ditambah dengan membuat jurnal penyesuaian.
  3.
     Rekening Cadangan bersaldo Kredit lebih besar dari taksiran kerugian piutang hasil perhitungan, perlu dikurangi dengan membuat jurnal penyesuaian.
  4.
     Jika Cadangan bersaldo debet, berarti Cadangan yang dihitung tahun lalu kurang, sehingga rekening Cadangan harus dikredit sejumlah saldo debet ditambah dengan jumlah taksiran kerugian piutang hasil perhitungan.




Langkah ketiga:

    Kasus I

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan kredit Rp 2.150,00, maka tidak perlu ayat jurnal penyesuaian.




Kasus II

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan kredit Rp 2.000,00, maka tidak ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2005

Des 31





Beban Kerugian Piutang

Penyisihan Ker. Piutang





150








150

Jika jurnal ini diposting ke Buku Besar maka rekening Cadangan akan tampak sebagai berikut:

Penyisihan/Cadangan Kerugian Piutang

Tgl


Uraian


Jumlah


Tgl


Uraian


Jumlah


Des 31


2.000


31


AJP


150




Beban Kerugian Piutang

Tgl


Uraian


Jumlah


Tgl


Uraian


Jumlah

Des 31


AJP


150






Kasus III

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan kredit Rp 3.000,00, maka tidak ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2005

Des 31





Penyisihan Ker. Piutang

Beban Kerugian Piutang





850








850

Jika jurnal ini diposting ke Buku Besar maka rekening Cadangan akan tampak sebagai berikut:

Penyisihan/Cadangan Kerugian Piutang

Tgl


Uraian


Jumlah


Tgl


Uraian


Jumlah

31


AJP


850


Des 31


3.000





Beban Kerugian Piutang

Tgl


Uraian


Jumlah


Tgl


Uraian


Jumlah


Des 31


AJP


850





Kasus IV

Misalkan dalam langkah kedua telah dihasilkan bahwa taksiran kerugian piutang adalah Rp 2.150,00 dan saldo rekening Cadangan debet Rp 1.000,00, maka tidak ayat jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2005

Des 31





Beban Kerugian Piutang

Penyisihan Ker. Piutang





3.150








3.150

Jika jurnal ini diposting ke Buku Besar maka rekening Cadangan akan tampak sebagai berikut:




Penyisihan/Cadangan Kerugian Piutang

Tgl


Uraian


Jumlah


Tgl


Uraian


Jumlah

Des 31


1.000


Des 31


AJP


3.150











Beban Kerugian Piutang

Tgl


Uraian


Jumlah


Tgl


Uraian


Jumlah

Des 31


AJP


3.150






  1.
     Penyajian di Neraca

     Piutang di sajikan di neraca sebesar nilai realisasinya. Nilai ini adalah jumlah yang akan diterima berupa nilai nominal dikurangi denan taksiran kerugian piutang yang telah dibentuk dan disesuaikan setiap akhir tahun. Dengan demikian jumlah tersebut merupakan jumlah yang diharapkan dapat ditagih.

     Dengan data di atas, Neaca PT ABC akan tampak sebagai berikut:


     

     PT ABC

     Neraca

     31 Desember 2005


     




Harta Lancar:

Kas                                    xx

Piutang                    Rp 12.000,00

Penyisihan Kerugian Piutang        (Rp 2.150,00)        Rp 9.850,00







Kadangkala perusahaan memberikan potongan tunai dan kesempatan untuk mengembalikan barang (retur penjualan). Jika perusahaan telah menjual barang dengan syarat di atas, maka ada kemungkinan pembeli akan membayar dalam masa diskon atau bahkan pembeli dapat saja mengembalikan barang ke perusahaan. Agar perusahaan dapat menyajikan nilai piutang sebesar nilai realissi, maka pada akhir tahun perusahaan membuat jurnal untuk mengakui retur dan pemberian potongan penjualan walaupun belum terjadi retur dan pemberian potongan tunai penjualan. Jurnal itu juga dmaksudkan untuk mengurangi nilai piutang sehingga nilai yang disajikan adalah sebesar nilai yang dapat direalisir. Misalkan pada akhir tahun 2005 diperkirakan bahwa debitur akan membayar dengan diskon Rp 20,00 dan melakukan retur Rp 100,00, maka perusahaan pada tanggal 31 Desember 2005 akan membuat jurnal:

   

Tgl.


Akun


Debet


Kredit

2005

Des 31





Potongan Tunai Penjualan

Cadangan Pot. Tunai Penjualan





20








20

Retur Penjualan

Cadangan Retur Penjualan


100





100




PT ABC

Neraca

31 Desember 2005







Harta Lancar:

Kas                                    xx

Piutang                        Rp 12.000,00

Cadangan Pot Tunai & Retur    Rp 120,00

Penyisihan Kerugian Piutang    Rp 2.150,00    (Rp 2.270,00)     Rp 9.730
20/10/11 Diposkan oleh oci oci
Mungkin juga Anda tertarik kepada
mengapa tugas akuntansi susah?
Bagaimana cara berlangganan jurnal riset akuntansi indonesia download
Apa Software Akuntansi Laporan Keuangan Terbaik ?
saya membutuhkan software komputer akuntansi untuk koperasi serba usaha, dimana saya bisa mendapatkannya?
yg gampang nyri krjanya,jurusan mNjmn infrmtika pa akuntansi
Masuk
Lihat Tanya Jawab dalam tampilan: Seluler | Klasik
©2014 Google - Kebijakan Privasi - Bantuan