Beranda > Pertanyaan
Pertanyaan
apakah orang islam boleh merayakan ulang tahunnya?
Agama dan Kepercayaan | Bangsa dan Budaya 21/12/10 Diposkan oleh Belum Ada Nama
Jawaban
1 dari 32
saya udah bantu cari dan ketemu jawaban begitu


Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa – atau sering disebut hari ‘ Ied Arafah – untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.

Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam) dan merupakan bid’ah yang sesat. (Syaikh Muhammad Salih Al ‘ Utsaimin)

Sumber :
Al-Bid’u wal-Muhdatsaat wa maa laa Asla Lahu- Halaman 224; Fataawa fadhilatusy-Syaikh Muhammad As-Saalih Al-’Utsaimin- Jilid 2, Halaman 302.

http://ainuamri.blogspot.com/2010/08/jangan-merayakan-ulang-tahun-para-ulama.html
21/12/10 Diposkan oleh deph1lt
2 dari 32
lebih baik mentitik beratkan ke hari bersyukur saja
karna kita masih bisa merasakan dimana hari kita diciptakan
allhuakbar
21/12/10 Diposkan oleh dory aprianta
3 dari 32
dalam islam tidak ada namanya merayakan ulang tahun. tetapi seharusnya bersedih karena umur berkurang didunia ini.
cuman ini semua kembali menitik beratkan kepada orangnya masing2.
jika saya lebih kepada mengevaluasi apa yang telah terlewati & bersyukur.

apabila merayakannya itu terlebih dengan meminta doa dari sanak saudara & kerabat agar diberi keselamatan & rejeki untuk tahun2 kedepannya. wajar donk kalau orang dikasih doa itu senang. maka dari itu kita merayakannya. jadi intinya tergantung niat.
http://bloghacita.blogspot.com
21/12/10 Diposkan oleh lulu
4 dari 32
Hukum merayakan ulang tahun memang tidak didapat nash yang secara langsung melarangnya dan juga menganjurkannya. Hal itu dikembalikan kepada tradisi masyarakat setempat. Dengan catatan, tidak ada mata acara dan perilaku yang bertentangan dengan aturan Islam.

Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan bahwa setiap tanggal kelahiran Rasulullah SAW, beliau merayakannya atau sekedar mengingat-ingatnya. Begitu juga para shahabat, tabiin dan para ulama salafusshalih. Kita tidak pernah dengar misalnya Imam Abu Hanifah merayakan ulang tahun lalu potong kue dan tiup lilin.

Namun bila ulang tahun itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, apalagi menghabiskan biaya yang cukup besar, maka leibh bijaksana bila tidak dirayakan secara berlebihan.

Selain itu yang penting juga untuk diketahui bahwa dalam hukum Islam dikenal istilah “Sadd Az-Zariah”. Artinya mencegah sesuatu yang dikhawatirkan nantinya akan berakibat buruk. Karena itu ketika muncul trend qiyamullail, dikeluarkan fatwa yang meminta agar aktifitas itu tidak perlu dihidup-hidupkan.

Memang acara itu dalam rangka mencounter hura-hura malam tahun baru sekian tahun yang lalu, lalu kemudian aktifitas qiyamullail di malam tahun baru semakin menggejala di kalangan aktifis dakwah, namun ditakutkan suatu hari nanti orang akan beranggapan bahwa aktifitas seperti harus rutin dilaksanakan.

Meski awal pemikirannya cukup baik yaitu mengalihkan gairah para pemuda dari hura-hura malam tahun baru dengan terompet, campur baur muda mudi, atau pesta pora dan lainnya, dialihkan menjadi shalat malam berjamaah, tafakkur dan merenung tentang arti Islam bahkan ada doa bersama dan menangis menyesali dosa-dosa.

Tapi trend ini semakin tahun semakin luas dan para ulama mengkhawatirkan akan menimbulkan salah persepsi bagi orang awam, bahwa aktifitas ini harus rutin dikerjakan dan seolah menjadi bagian dari syariat agama ini.

Karena itu selama masih bisa ditangkal, sebelum membesar dan sulit dihilangkan, dikeluarkanlah fatwa untuk menghimbau para aktifis dakwah agar tidak perlu menyelenggarakan qiyamullail tiap malam tahun baru. Kalau mau tahajjud dan qiyamullail, silahkan dikerjakan masing-masing di rumah.

Karena itu bila dalam sebuah rumah tangga islami ingin diterapkan pola kehidupan yang Islami, menyelenggarakan ulang tahun anak bukan alternatif yang paling baik. Ini bukan berarti tradisi saling memberi hadiah tidak boleh, atau merenungi dan mensyukuri karunia yang Allah berikan tidak diizinkan. Hanya untuk melakukan aktifitas itu kan tidak harus dalam format ulang tahun.

Wallahu a‘lam bishshowab.

http://syariahonline.com/new_index.php/telusuri/view/find/ulang/ke/all/kategori/all/limit/100
21/12/10 Diposkan oleh Hanz Pazeer
5 dari 32
Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. ini memang warisan zaman kegelapan Eropa.

Berdasarkan catatan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun. Utamanya yang punya duit.

Jadi, Tradisi Ulang Tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam islam. Islam tak pernah diajarkan untuk merayakan ulang tahun. Kalo pun kemudian ada orang yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi dalil kalo ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Maka ini adalah argumen yang gegabah

Karena pasti Rasulullah sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya untuk merayakan maulid Nabi. Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya? Kalo kita baca buku tarikh Islam, di situ ada catatan bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib Eropa. Sultan Shalahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena mereka udah kena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Mereka bisa begitu karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara mereka yang nggak ngeh dengan perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya.

Untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai maulid nabi. Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia. Singkat cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit. Karuan aja, berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mempecundangi Pasukan Salib Eropa. Jadi Maulid nabi bukan dalil dbolehkannya pesta ultah.

Kita kembali ke soal pesta ultah ini. Jadi pesta ultah itu bukan warisan Islam. Tapi warisan asing, alias ajaran di luar Islam. Lalu gimana kalo kita melakukannya? Berdosakah?karena tradisi itu adalah tradisi orang-orang Eropa, yang saat itu berkembang ajaran Kristen, maka pesta ultah tentu saja merupakan tradisi kaum non-muslim. Kalo kita melakukannya? Dosa dong.

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Rasulullah SAW bersabda : “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya : Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari Muslim).

Dari sini jelas bahwa hukum merayakan Ulang Tahun adalah HARAM!. BERDOSA!!!

Mungkin ada pertanyaan begini, “Bolehkah merayakan ulang tahun dalam arti berdoa atau mendoakan agar yang berulang tahun selamat, sehat, takwa, panjang umur, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan cara dan isi doa yang syar’i, tanpa upacara tiup lilin dan sebagainya seperti cara Barat, lalu dilanjutkan acara makan-makan. Bolehkah?”

Jawabannya, berdoa dan makan-makan adalah halal. Tetapi bila dilakukan pada hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasyabbuh bil kuffar. Jadi di sini akan bertemu hukum haram dan halal. Dalam kondisi seperti ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara’ menyebutkan : “Idza ijtama’a al halaalu wal haraamu, ghalaba al haramu al halaala.” Artinya, “Jika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang haram mengalahkan yang halal.” (Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim).

Dengan demikian, jika merayakan ultah diartikan sebagai “berdoa dan makan-makan”, dan dilaksanakan pada hari ultah, hukumnya haram, sesuai kaidah syar’i di atas. Akan tetapi jika dilaksanakan bukan pada hari ultah, maka hukumnya –wallahu a’lam bi ash shawab– menurut pemahaman kami adalah mubah secara syar’i. Sebab hal itu tidak termasuk tasyabbuh bil kuffar karena yang dilakukan pada faktanya adalah “berdoa plus makan-makan”, yang mana keduanya adalah boleh secara syar’i. Lagi pula hal itu dilakukan tidak pada hari ultah sehingga di sini tidak terjadi pertemuan halal dan haram sebagaimana kalau acara tersebut dilaksanakan pada hari ultah. Wallahu a’lam.

Allah Berfirman : “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. ali Imrân [3] : 85).

Allah juga berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isrâ’ [17] : 36).

Rasullah bersabda: ”Belum sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (Al-Qur’an).” (Hadits ke-41 dalam Hadits al-Arba’in karya Imam Nawawi).

almanhaj.or.id
04/01/11 Diposkan oleh Muhlisa Inaya
6 dari 32
kurang setuju dengan pendapat muhlisa inaya, . .jika merayakan ulang tahun dianggap haram meskipun itu dilakukan dengan makan2 dan doa bersama, lalu apakah memperingati maulid Nabi Agung Muhammad SAW juga di katakan haram????? sering dalam tradisi masyarakat islam indonesia dalam memperingati maulid nabi dengan doa bersama dan makan2, , ,padahal itu hanya di lakukan tanggal 12 rabiul awal. . . .
yang haram itukan mengikuti kebatilan2 orang Nasrani dan Yahudi. . .
10/01/11 Diposkan oleh maskod
7 dari 32
Tanya aja sama ustad..............
25/01/11 Diposkan oleh MUNYU
8 dari 32
boleh tapi dengan cara berdoa kepada ALLAH SWT
11/02/11 Diposkan oleh Belum Ada Nama
9 dari 32
tIDAK BENAR MAULID CUMA DILAKUKAN PADA 12 ROBIUL AWAL!MAULID BISA DILAKUKAN DI SEMBANRANG WAKTU BAHKAN SEHARUSNYA DI SETIAP WAKTU!.....untuk ultah pribadi rasanya jika cuma ungkapan syukur dg cara islami atas ni'MAT kelahiran .dan tdk menempatkan harus tpt saat kelahiran yng berulang baik PER WINDU, TAHUN PER BULAN ,PEKAN,HARI,per JAM ATO DETK....tdk ada masalah..tetapi syukur atas kelahiran sudah dicukupi dengan AQIQOH...kalupun mau bersyukur lagi knapa harus ditempatkan pada waktu tertentu yang berulang....?ini bisa dekat pd ISTILAH BID'AH,,,lahir cuma sekali disyukuri ckp dg sekali...ITU SAJA TIDAK HARUS TPAT PD HARI,PEKAN,BULAN ATO TAUN KELAHIRAN..mau berkali-kali jg tidak masalah tetapi TDK ATAS NAMA aqiqoh ..masalahnya adalah membuat  acara syukuran PD  DAUR TERTENTU DAN MENGULANGNYA itu sudah MSUK DLM KATEGORI RITUS. ITU TDK DIAJARKAN..BERSYUKURLAH TIAP SAAT. atas keni"matan ...KArena tiap detik,tiap,menit,tiap jam dst    keni"matan itu berulang.......kalo diliat.dari putaran  bumi matahari....meski sebenarnya waktu itu berlangsung bukan berulang.....dEMIKIANLH DI SAMPIING .Persoalan lain yg  adalah bila bentuknya mirip tata cara BARAT!INI jgYANG harus dibenahi....WALLAHU A'LAM
16/02/11 Diposkan oleh LORD
10 dari 32
Nabi Muhammad tidak mengajarkan untuk merayakan ulang tahun, dan para sahabat tidak ada yang mengadakan maulid nabi. Ingat, sahabat adalah generasi terbaik dan yang harus kita contoh, karena para sahabat mengikuti jalan rasulullah
11/03/11 Diposkan oleh Fikri si pemimpi
11 dari 32
dalam ajaran islam bahwa bagi umat muslim tidak diperbolehkan untuk merayakan hari ulan tahunnya
09/06/11 Diposkan oleh Belum Ada Nama
12 dari 32
TIDAK BOLEH...ULANG TAHUN ADALAH ADAT ORANG BARAT(EROPA)
11/08/11 Diposkan oleh Rick de Niro
13 dari 32
boleh tetapi dalam bentuk syukuran seperti membagikan makanan kepada orang yg kurang mampu ke panti asuhan,dsb.Perayaan ulang tahun dalam bentuk syukuran seperti itu bermakna kalo kita bersyukur atas umur panjang yg telh diberikan oleh Allah SWT
22/08/11 Diposkan oleh Belum Ada Nama
14 dari 32
boleh saja asalkan mereka bersyukur kepada Allah SWT atas diberikannya umur dan masih diperbolehkan hidup di dunia ini
01/09/11 Diposkan oleh orox6661
15 dari 32
tidak boleh...
karena ini mengikuti perayaan orang-orang kafir, sedangkan orang yang mengikuti kegiatan suatu golongan, maka ia termasuk golongan itu.
27/10/11 Diposkan oleh Khanza' Asy-Syifaa'
16 dari 32
Lakuin aja,,selama tidak tidak bertentangan syariat..coba pikir,anda mengasih makan untuk orang terus menghasilkan energi untuk beribadah kepada Allah dan pula itu bentuk syukur pada Allah,, Allah maha dermawan akan menambahkan kenikmatan untuk anda...

kalau ada bisa memperingati maulid Rasulullah SAW tiap detik...HEBAT...
maaf saya belum sampai maqom ada,,saya masih sering lupa terhadap Rasulullah SAW...jangan sesatkan orang cinta maulid..

“Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka Rasulullah saw menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi) , maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HR. Bukhari)"

dijabarkan oleh seorangan habib,,Lihat indahnya akhlak Rasulullah,, beliau SAW tidak berkata pada Yahudi percuma puasa kalian neraka, tapi beliau berkata yang seharusnya merayakan beliau hari itu...Sungguh teramat sangat agung akhlak Rasulullah

dan saya bertanya apa Rasulullah SAW menyerupai Yahudi ?

Ya Robbi Sholli 'ala muhammad waballighil kulla kulla mathlab...Allahumma Sholli 'ala Sayyidina muhammad
06/01/12 Diposkan oleh Belum Ada Nama
17 dari 32
ulang tahun adalah hari di mana seseorang merayakan umurnya yang berkurang dan mendekati ajal...
ulang tahun tidak dikenal dalam Islam.
malah ini adalah bentuk tasyabbuh atau  taqlid buta (ikut-ikutan) pada orang-orang kafir...

"Barangsiapa mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk di dalam golongan mereka."

Kalau Ulang tahun disebut syukuran, sebenarnya cuma perubahan nama, tapi kegiatan niatannya sama saja, tetap tidak boleh...
23/01/12 Diposkan oleh Khanza' Asy-Syifaa'
18 dari 32
sejujurnya tidak boleh, karena saat kita merayakan tanggal lahir kita berarti kita telah merayakan umur kita yang semaki berkurang.
26/01/12 Diposkan oleh Lydia Bekti Nugraheni
19 dari 32
boleh  n sah2 j yg pntng wktu ngrayainya hrs pake acara sholat jama'ah ngaji bareng gitu
21/04/12 Diposkan oleh Belum Ada Nama
20 dari 32
kalau menurut saya tdk boleh karena itu adalah salah satu cara orang kafir untuk mengkafirkan orang-orang ISLAM
10/05/12 Diposkan oleh cah bodo
21 dari 32
. apa kita g bole bersyukur karena masi d beri kesehatan.  apakh syukuran saat ulang tahun tidak bole?..
islam kakeen aturan.  mnybut non muslim dengan kafir=najis.
25/07/12 Diposkan oleh Belum Ada Nama
22 dari 32
Hendaklah mengikuti syariat yg dibenarkan..
01/11/12 Diposkan oleh kilay yaska repi
23 dari 32
msh di cari jawabannya. hbs tiap org pendapatnya beda2 sih. ank ku lahir tanggal 1 muharram hr ni . tahun masehinya 7 desember. td beli nasi kuning sm telur rebus ya hbs 11rb. bc doa selamat trus nyuru temen2 anakky mkn bareng2. nah klu gt gmn??? balik nanya ni :)
15/11/12 Diposkan oleh Belum Ada Nama
24 dari 32
Dalam islam memang tidak mengajarkan untuk semua umat muslim tanpa terkecuali untuk merayakan ultahnya
namun semuanya itu dalam merayakan ultahnya menurut saya tergantung niatnya
klw niatnya hanya tertuju kepada ALLAH swt. nda masalah
namun klw selain ALLAH swt. itu baru masalah...^_^
Ingat juga yang berhak memfonis ia bersalah atw tidak itukan hanya Dia yG maha segalanya ALLAH swt.
10/02/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
25 dari 32
Mengomentari tentang jawaban ini --> "dalam islam tidak ada namanya merayakan ulang tahun. tetapi seharusnya bersedih karena umur berkurang didunia ini.
cuman ini semua kembali menitik beratkan kepada orangnya masing2.
jika saya lebih kepada mengevaluasi apa yang telah terlewati & bersyukur.

apabila merayakannya itu terlebih dengan meminta doa dari sanak saudara & kerabat agar diberi keselamatan & rejeki untuk tahun2 kedepannya. wajar donk kalau orang dikasih doa itu senang. maka dari itu kita merayakannya. jadi intinya tergantung niat.
http://bloghacita.blogspot.com"

Jawab:
niat pun harus tetap dengan syariat yang benar. kalau meminta doa pada saat tanggal dan tahun kelahiran itu sama seperti merayakan hal tersebut, atau mendekati kebiasaan suatu kaum. sedangkan dalam islam perayaan itu hanya iedul fitri, iedul adha, hari jumat saja.

link:
http://muslim.or.id/manhaj/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun.html
24/03/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
26 dari 32
saya sangat setuju dengan jawabannya "muhlisa inaya" karena sudah sangat jelas diterangkan didalam Alqur'an dan Alhadist bahwa ulang tahun itu bukanlah ajaran islam, dan bahkan haram hukumnya dikarenakan ulang tahun adalah merupakan adat orang yahudi nasrani.
Nabi Muhammad bersabda "telah aku tinggalkan 2 perkara didalam kalian, tidak akan sesat kalian jika berpegang teguh pada keduanya yaitu KITABILLAH (ALQUR'AN) dan SUNNAH NABI ALLOH (Al-Hadist)".

jadi jelas pedoman orang islam hanyalah Alqur'an dan Al-Hadist.
JIKA KITA ORANG ISLAM BERPEDOMANLAH PADA aLQURAN DAN ALHADIST

connection85.wordpress.com
22/05/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
27 dari 32
menurut saya jawaban muhlisa inaya sdah sangat cukup...
13/07/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
28 dari 32
Sebelumnya saya ucapkan jazakAllah khair bagi seluruh sahabat, baik didunia maya, maupun dialam nyata atas perhatian dan kasih sayang yang kalian beri pada saya dalam bentuk nasihat, kritik, dakwah serta ucapan dan perbuatan. Semuanya itu sungguh sangat berarti bagi saya, apalagi untuk ucapan selamat pada hari lahir saya ******** kemarin, saya cukup terkejut (bahagia) juga karena ternyata masih ada orang yang ingat tanggal lahir saya bahkan mau memberi selamat, untuk kebaikan kalian semua saya banyak berterimakasih.


Tapi ada sedikit kebodohan saya, karena kurangnya ilmu dan hikmah, yang hendak saya sampaikan pada kalian, sebagai nasihat kasih sayang seorang muslim kepada muslim lainnya yang tidak akan membiarkan saudaranya menuju jalan yang tidak diridhoi Allah.


Sedikit yang hendak saya sampaikan itu adalah tentang masalah ulang tahun, merayakan, memberi selamat, menerima ucapan selamat, memberi hadiah dengan maksud tersebut, dsb. Alangkah lebih baiknya bila tulisan bodoh saya ini kalian cermati, resapi dan amalkan bila memang benar, atau tinggalkan dan koreksi bila memang terdapat kesalahan didalamnya, sebagai bentuk nasihat dan kasih sayang kalian pada saya dan orang lain. Sebelumnya saya ucapkan JazakAllah khair dan terimakasih banyak.


Seperti kita ketahui bersama bahwa budaya ulangtahun dalam segala bentuknya tidak pernah disyariatkan Islam, apakah itu memberi ucapan dan hadiah maupun sekedar menerimanya. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Rasul berpuasa dihari senin yang merupakan hari lahir beliau dan melakukan demikian demi untuk merayakannya, maka saya meragukan keshahihan hadits tersebut, sebab sejauh penulusuran saya, hanya dijumpai beberapa hadits shahih tentang masalah berpuasa pada hari senin dan tidak ada satupun yang menyangkut pautkannya dengan merayakan hari lahir. Diantara hadits tersebut yang paling terkenal adalah hadits berikut:

Dari Usamah bin Zaid RA beliau berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW selalu berpuasa pada hari senin dan kamis, tatkala beliau ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab: “Sesungguhnya amal-amal hamba dihadapkan pada hari senin dan kamis”.

(HR. Abu Dawud No. 2419 dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud No. 2127).

Jadi beliau berpuasa senin kamis adalah sama sekali bukan karena hari senin tersebut adalah hari lahirnya.


Yang pasti diketahui bahwa Nabi SAW tidak pernah merayakan hari lahir beliau seumur hidupnya, tidak pernah memerintahkan juga tidak pernah mendiamkan perbuatan tersebut. Bahkan tidak ada seorang sahabatpun yang melakukannya. Begitu juga para Khulafaa-ur Raasyiduun, para ulama, baik terdahulu (salaf) maupun kontemporer (khalaf). Jadi bila beliau semua diatas tidak pernah melakukannya, maka kenapa kita sebagai generasi muda Islam yang masih kurang ilmu, kurang pengalaman dan kurang bimbingan dari para ulama melakukannya? Padahal seandainya perbuatan tersebut baik, niscaya beliau semua yang terlebih dulu melaksanakannya sebagai bentuk kecintaan pada sunnah Nabi SAW.


Pertanyaan berikutnya:

“Kalau bukan berasal dari Islam, maka bagaimana hukum merayakannya menurut Islam?”

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kiranya cukuplah fatwa dari dua Syaikh besar yang diakui dunia dan termasuk dalam anggota majlis fatwa ulama dunia, yaitu Syaikh Utsaimin dan Syaikh Bin Baaz Rahimahumullah.

1. “Tidak pernah ada dalam syari’at tentang perayaan dalam Islam, kecuali pada:

- Hari Jum’at yang merupakan I’ed (hari raya) mingguan

- Hari pertama bulan Syawwaal yang disebut I’edul Fitri

- Hari kesepuluh bulan Dzulhijjah atau disebut I’edul Adh-haa atau sering disebut I’edul A’rafah (penamaan yang kedua ini khusus untuk orang yang berhaji di A’rafah.

- Hari Tasyriq (yaitu tiga hari sesudah hari kesepuluh tersebut: hari ke 11, 12 dan 13 pada bulan yang sama dengan I’edul Adh-haa). Hari Tasyriq merupakan hari I’ed yang menyertai Iedul Adh-haa.

Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari perkawinan dan

semacamnya, semua itu tidak disyariatkan dalam Islam, serta merupakan bid’ah

yang sesat.

Sumber:

- Syaikh Muhammad Shalih Al U’tsaimin. Al-bid'u wal-muhdatsaat wa maa laa aslalahu. Hal 224.

- Fataawa fadhilatusy syaikh Muhammad Shalih Al U’tsaimin. Jilid 2. Hal 302.


Mengadakan perayaan untuk memperingati hari lahir saya rasa tidak bisa terlepas dari dua hal:

1. Bisa jadi hal itu sebagai ibadah

2. Bisa jadi hal itu dimaksudkan sebagai adat istiadat.

Jika dimasukkan sebagai ibadah, maka akan terjatuh pada hukum termasuk mengadakan bid’ah (mengadakan perkara dalam agama yang tidak terdapat contohnya). Nabi SAW melarang mengadakan perbuatan bid’ah karena bid’ah termasuk dari kesesatan. Beliau bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari mengadakan perkara-perkara yang baru dalam agama karena sesungguhnya setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah sesat, dan setiap kesesatan berada dalam api neraka”.

(HR Abu Dawud, Tirmizi dan Ibnu Majah dalam Sunan beliau semua).


Jika perayaan itu dianggap sebagai adat istiadat dan budaya, maka akan terkena pada dua hukum larangan. Pertama karena menganggap suatu hari yang bukan hari raya Islam sebagai hari raya. Perbuatan dan keyakinan tersebut termasuk kategori lancang kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menetapkan sesuatu (baik sadar dan sengaja maupun tidak) yang Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkannya


Saat tiba diMadinah dari Makkah, Rasul SAW menjumpai kaum Anshar merayakan dua hari raya, mereka bergembira dan bersenang-senang dengan hari raya tersebut. Kemudian Rasul SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya I’edul Fitri dan hari raya I’edul Adh-haa.

(HR Nasai).


Adapun larangan kedua adalah perayaan hari ulang tahun itu menyerupai orang-orang kafir, sebab adat istiadat perayaan ultah ini bukan termasuk adat istiadat kaum muslimin, melainkan adat istiadat yang diwarisi dari orang kafir. Sebagaimana Sabda Rasul SAW:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongannya”.


Salah satu hikmah dari dilarangnya perayaan hari lahir adalah karena menurut sebagian besar ulama bertambahnya umur seseorang bukanlah hal terpuji, melainkan dalam keridaan Allah dan ketaatan kepada-Nya. Maka sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya serta baik amal perbuatannya, dan sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya serta jelek amal perbuatannya.

Karena sebab diataslah sebagian besar ulama memakruhkan doa meminta umur panjang, baik doa untuk diri sendiri maupun mendoakan orang lain


Berdasarkan sebagian besar riwayat, disebutkan bahwa perayaan hari kelahiran diadakan pertama kali pada abad keempat hijriah oleh kaum syi’ah Fathimiyyah yang kemudian diikuti oleh sebagian kaum sunni hingga menyebarlah hal tersebut secara luas sampai hari ini.


Pertanyaan lanjutan:

“Kalau perayaan hari kelahiran dirayakan dengan berdoa mensyukuri nikmat Allah atas umur dan semua anugerah-Nya sepanjang hidup kita serta memohon keselamatan dunia akhirat, bukan dengan bentuk perayaan pada umumnya, bagaimana menurut syariat?

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa perayaan hari kelahiran bukan berasal dari ajaran Islam, maka mengadakan perkara yang tidak ada tuntunan dari Syariat Islam akan tertolak walaupun dimaksudkan untuk kebaikan, sebagimana dijelaskan dalam hadits.

“Barangsiapa melakukan perbuatan (dalam agama) yang tidak berdasarkan perintah dari kami, maka (perbuatannya tersebut) tertolak”.

(HR.Muslim)


Adapun mensyukuri nikmat Allah atas umur dan semua anugerah-Nya sepanjang hidup kita serta memohon keselamatan dunia akhirat, tidak harus menunggu waktu ulang tahun tiba yang hanya sekali setahun, melakukan hal tersebut (bersyukur atas nikmat, dan berdoa) harus kita lakukan setiap saat, bahkan dikuatirkan mengadakan pengkhususan aktifitas tersebut pada hari ulang tahun merupakan perkara yang menyelisihi Islam dan sekali lagi merupakan bentuk pengekoran kita kepada ajaran kafir.

InsyaAllah ada baiknya bila kita renungkan sabda Nabi SAW berikut ini:

“Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan hidup) bangsa-bangsa sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga seandainya mereka masuk lubang biawak sungguh kalian akan memasukinya” Para Shahabat RA bertanya: “apakah yang anda maksud adalah Yahudi dan Nasrani?”. Beliau SAW menjawab: “Lalu siapa lagi?”

(HR.Bukhori dan Ahmad)


Akhir kata, semoga saya diberi kekuatan oleh Allah untuk selalu dapat melaksanakan sedikit sekali ilmu yang saya punya dan saya beritahukan kepada orang lain, juga semoga kita semua dapat saling menasihati dalam kebaikan dan keikhlasan. Nasihati saya untuk kesalahan yang saya perbuat, dan doakan saya untuk kebaikan yang tiada berarti. Saya tunggu nasihat dari kalian semua sahabat…
01/09/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
29 dari 32
Ulang tahun itu TIDAK ada....  yang ada ulang hari dan ulang tanggal, menit,ataupun detik. .jadi mungkin yg di maksud happy birthday. dan itu tetap saja salah. bukan kah mereka mempunyai bahasa asing yang tidak di mengerti dan tak masuk akal.
26/10/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
30 dari 32
Boleh dan halal. Tidak ada satu dalil pun, baik dari Qur'an dan Sunnah yang melarang dengan terang pelaksanaan perayaan ulang tahun.
Yang terpenting, pelaksanaan ulang tahun tersebut dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik, semakin mengingat kematian, momentum silaturahim, momentum berbagi.
Dan tidak mendekatkan diri kepada maksiat, seperti pesta miras, pesta seks, gibah atau kegiatan lain yang memang secara jelas dilarang Allah SWT.
Apakah meniup lilin juga dilarang? Tidak ada larangan dalam Islam. Tidak ada satu dalilpun yang secara kuat dan jelas melarang orang meniup lilin.
Dalam perayaan ulang tahun, lakukanlah dengan hal-hal positif yang tidak mendekatkan kegiatan maksiat. Kalau Rasulullah, milad beliu dirayakan dengan berpuasa. Sudah tau makna puasa? Banyak kan hikmahnya.
Mengapa ada ajaran Islam yang melarang perayaan ulang tahun? Ya, cuma ajaran Wahabi (Murid Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Taimiyah muridnya Imam Ahmad Bin Hambal) yang melarangnya dengan keras. Meskipun, pada prakteknya di Arab Saudi, Ulama Wahabi banyak berbeda pendapat juga soal ini.
Alasan utama ajaran Wahabi melarang adalah (1) adanya dalil tentang serupa-menyerupai suatu kaum (kaum nasrani dan yahudi. (2) dalil tentang bid'ah. Jadi, mereka menilai perayaan ulang tahun merupakan kegiatan yang menyerupai umat Yahudi dan Nasrani dan bisa dikatakan bid'ah atau mengada-ada hal yang baru dalam keagamaan.
Tapi tenang, Wahabi bukan Allah! Ibnu Taimiyah bukan Allah dan Imam Ahmad bin Hambal juga bukan Allah. Ajaran Islam ini ulamanya banyak, pemikirannya juga banyak. Ada Imam Syafi'i (ini yang banyak saya pakai), ada Imam Maliki, ada Imam Hanafi. Untuk syiah, ada Imam Ja'far. Semua ulama mufti' menurut saya. Tetapi murid-muridnya ini kadang banyak yang tersesat.
Dulu, sempat ada murid-murid Wahabi mau membongkar kuburan Nabi Muhammad Saw. Ya, ini soal bid'ah ziarah kubur.
Menuju surganya Allah, banyak Ulama yang membimbing. Kalau mau ikut ulama Wahabi ya silahkan. Mereka ini banyak mengkafirkan umat Islam di dunia. Jadi, alirannya keras. Sedikit-sedikit darah orang Islam halal. Orang Islam lagi merayakan ulang tahun, bisa-bisa halal darahnya untuk dibunuh.
Untuk diskusi lebih lanjut hubungi aorta_eb@yahoo.com atau HP. 0811 583 68 69 (Hadi Purnomo).
Wallahu 'alam bishawab.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh...
08/11/13 Diposkan oleh Belum Ada Nama
31 dari 32
dalam hati saja bolehh,,, untuk dilakukan pesta,, makan dan minum,, apa lagi paki musik, rebana, gambus,,, mungkinn itu tidak pasangan, tidak pas,
14/01/14 Diposkan oleh iyus
32 dari 32
Lebih baik dihari itu kita merenung. mengingat kembali sejarah diwaktu yang sama, dimana pada tanggal itu, Ibunda kita tercinta sedang berusaha memperjuangkan agar kita dapat hadir di dunia ini.
jd mnurt sy, tnggal kelahiran kita lbh baik kita ingat sebagai tanggal perjuangan Ibunda kita.
05/03/14 Diposkan oleh Belum Ada Nama
Mungkin juga Anda tertarik kepada
mbah saya mau tanya kenapa anjing najis bagi orang islam
Bila ada orang yang mengklaim bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Islam,apa yang ada di pikiran anda ?
Apakah agama mayoritas di Indonesia?
apa agama kalian?
apakah cheetah boleh dipelihara? berikan alasannya!!
Masuk
Lihat Tanya Jawab dalam tampilan: Seluler | Klasik
©2014 Google - Kebijakan Privasi - Bantuan